K.H Mohammad Hasyim Asy’arie ( bagian belakang juga sering dieja Asy’ari atau Ashari) lahir 10 April 1875 M/24 Zulkaidah 1287 H di Demak, Jawa Tengah. Ia meninggal di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada usia 72 tahun dan dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang.
Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, K.H Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebu Ireng yang kini menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa. Pada tahun 1926, ia menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU) yang berarti kebangkitan ulama.
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 September 2011
K.H. Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868. Ia meninggal di Yogyakarta pada tanggal 23 Februari 1923 dalam usia 54 tahun. Ia adalah putra K.H. Abu Bakar, seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
Nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy. Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Muhammad Darwisy mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaru dalam islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afgani, Rasyid Rida dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah. Melalui organisasi tersebut, ia mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan hadist. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Atas jasa-jasanya,Ahmad Dahlan diangkat sebagai pahlawan nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961.
Nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy. Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Muhammad Darwisy mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaru dalam islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afgani, Rasyid Rida dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah. Melalui organisasi tersebut, ia mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan hadist. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Atas jasa-jasanya,Ahmad Dahlan diangkat sebagai pahlawan nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961.
Minggu, 12 Desember 2010
Kyai Ageng Sragen
Pada zaman dahulu, terciptanya desa Sragen diawali dari kisah kerajaan Mataram di Kartasura yang pada waktu itu gempar karena seorang putera Pangeran Tepasana yaitu Raden Mas Garendi menentang kebijakan para narapraja Mataram, terutama terhadap Patih Pringgalaya yang sangat dekat dengan Kompeni Belanda. Kompeni Belanda terlalu jauh mencampuri urusan dalam kerajaan Mataram, Pangeran Tepasana ayahnya terpaksa dihukum mati tanpa jelas kesalahannya. Tidak aneh bila ia ingin membalas dendam. Dalam usaha itu dia mendapat bantuan dari orang-orang China di Kartasura serta sebagian abdi dalem narapraja Mataram.
Pada suatu hari, Raja Paku Buwana II berbincang-bincang dengan Tumenggung Alap-alap di DalemAgung. Pada waktu itu para narapraja terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu: pendukung Kanjeng Sunan atau Paku Buwana II, pendukung Patih Pringgalaya dan pendukung Raden Mas Garendi.
Tumenggung Alap-alap menceritakan bahwa Raden Mas Garendi melakukan pemberontakan terhadap kompeni. Mendengar hal itu Kanjeng Sunan bingung harus memihak kepada siapa, dan Alap-alap mengusulkan untuk memihak Raden Garendi. Itu merupakan usaha untuk mengembalikan nama dan kewibawaan Sunan. Namun Sunan menolaknya dengan alasan senjata yang dimiliki orang Jawa hanya bambu runcing, keris, tombak, dan sejenisnya. Sedangkan yang dimiliki kompeni senapan dan mesiu yang kuat. Dan dia takut para prajurit dan rakyatnya mati sia-sia.
Setelah mendengar alasan Kangjeng Alap-alap dapat memetik suatu sikap Kanjeng yang tidak teguh pendirianya dandapat tebujuk oleh rayuan. Sikap seperti itu dapat membahayakan tumenggung sendiri sebagai narapraja Mataram.
Bila suatu saat sunan terkena bujuk rayu pringgalaya dan akhirnya membantu kompeni,patih bisa denganmudah menyingkirkannya dari Bumi Mataram.
Sabda kanjeng terus terdengar jelas di telingga Alap-alap, maka dari itu dia memutuskan dia berserta keluarganya harus pergi dari Kartasura untuk menghindari kemungkinan yang bisa terjadi yang dapat merugikannya.
Pada hari yang ditentukan, pergilah Tumenggung dari Surakarta. Malam harinya mereka berangkat ke arah timur di desa Kranggan di daerah Sukawati. Di sanalah Alap-alap mengangkat dirinya sebagai pendeta dengan nama Kyai Srenggi untuk kelancaran penyamarannya.
Sementara itu apsukan pemberontakan dibawah kekuasaan Raden Mas Garendi dan kapten sepajang pimpinan orang-orang Cina mengharap bantuan darisuna,sesuaijanji sunan sendiri.namunbantuan itu takkunjung bahkan diketahui memihak kepada Kompeni. Menyaksikanhal itu ragen garedi marah danakanmengadakan pemberontakan yang sanga brutal.
Kartasura bersimbah darahdanmayat-mayat bergelimpang disepanjang jalan. Rombongan kanjeng sunan pergi kearah timut yang dikawal oleh kompeni. Sesampai mereka didesa Laweyan dan perjalanan diteruskan ke panaraga. Akhirny pada tahun1742 kraton Kartasura jebol dan diangkatlah Raden Garendi menjadi sunan baru dengan gelar Sunan Kuning.
Sementara itu patih dan Kompeni belanda berkerja sama menglawan sunan Kuning sebagai imbalan peluasan wilayah. Dan skhirnya kapten wilhem pemimpin kompeni meminta bantuan ke Batawi. Tak lama kemudian bantuan itu datang, terjadilah pertempuran yang lebih dasyat lagi dari yang sebelumnya, kartasura porak poranda.
Dan karena perlengkapan dan jumlah sedadukompeni lebih lengkap dan banyak, pasukan pemberontak kalah hebat. Sesudah sunan kuning Di singkirkan kanjeng sunan kembali menduduki tahtanya.
Seberapa bulan kemudian kanjeng bosan di Kartasura keadaan yang porak poranda. Setelah disuruh untuk mencari tempat yang baru, dipilihlah kota Sala sebagai calon kraton yang baru.
Pada waktu pangeran Mangkubumi yang menjadi salah satu pendukung Raden Garendi berasil lolos dari Surakarta, dia bersama keluarga dan beberapa prajurit dan bangsawan pergi dari Kartasura. Sampailah mereka di desa Kranggan, di sanalah pangeran mendapat kabar ada seorang brahmana sakti mandraguna yang bernama Kyai Srenggi. Pergilah mereka ke Kyai Srenggi untuk berkenalan dan mohon petunjuk.
Begitulah awalnya pertemuan pangeran langsung menceritakan apa yang terjadi, bagaikan petir di siang bolong mendengar pengakuan Kyai bahwa ia sebernarnya adalah Tumenggung Alap-alap yang menjadi salah satu narapraja Mataram yang membenci kompeni.
Kemudin pangeran Mangkubumi mengangkat Kyai sebagai senopati perangnya dan memintanya berganti nama kyai Ageng Sragen serta mengganti desa Kranggan menjadi desa Sragen.
Begitulah selanjutnya kyai Ageng Sragen dianggapSebagai cikal bakal desa Sragen dan menjadi leluhur para penguasa pemegang kekuasaan di Kabupaten Sragen – Sukowati.
Sumber:
http://perpustakaansragen.blogspot.com/search/label/Cerita%20Rakyat%20Sragen
Pada suatu hari, Raja Paku Buwana II berbincang-bincang dengan Tumenggung Alap-alap di DalemAgung. Pada waktu itu para narapraja terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu: pendukung Kanjeng Sunan atau Paku Buwana II, pendukung Patih Pringgalaya dan pendukung Raden Mas Garendi.
Tumenggung Alap-alap menceritakan bahwa Raden Mas Garendi melakukan pemberontakan terhadap kompeni. Mendengar hal itu Kanjeng Sunan bingung harus memihak kepada siapa, dan Alap-alap mengusulkan untuk memihak Raden Garendi. Itu merupakan usaha untuk mengembalikan nama dan kewibawaan Sunan. Namun Sunan menolaknya dengan alasan senjata yang dimiliki orang Jawa hanya bambu runcing, keris, tombak, dan sejenisnya. Sedangkan yang dimiliki kompeni senapan dan mesiu yang kuat. Dan dia takut para prajurit dan rakyatnya mati sia-sia.
Setelah mendengar alasan Kangjeng Alap-alap dapat memetik suatu sikap Kanjeng yang tidak teguh pendirianya dandapat tebujuk oleh rayuan. Sikap seperti itu dapat membahayakan tumenggung sendiri sebagai narapraja Mataram.
Bila suatu saat sunan terkena bujuk rayu pringgalaya dan akhirnya membantu kompeni,patih bisa denganmudah menyingkirkannya dari Bumi Mataram.
Sabda kanjeng terus terdengar jelas di telingga Alap-alap, maka dari itu dia memutuskan dia berserta keluarganya harus pergi dari Kartasura untuk menghindari kemungkinan yang bisa terjadi yang dapat merugikannya.
Pada hari yang ditentukan, pergilah Tumenggung dari Surakarta. Malam harinya mereka berangkat ke arah timur di desa Kranggan di daerah Sukawati. Di sanalah Alap-alap mengangkat dirinya sebagai pendeta dengan nama Kyai Srenggi untuk kelancaran penyamarannya.
Sementara itu apsukan pemberontakan dibawah kekuasaan Raden Mas Garendi dan kapten sepajang pimpinan orang-orang Cina mengharap bantuan darisuna,sesuaijanji sunan sendiri.namunbantuan itu takkunjung bahkan diketahui memihak kepada Kompeni. Menyaksikanhal itu ragen garedi marah danakanmengadakan pemberontakan yang sanga brutal.
Kartasura bersimbah darahdanmayat-mayat bergelimpang disepanjang jalan. Rombongan kanjeng sunan pergi kearah timut yang dikawal oleh kompeni. Sesampai mereka didesa Laweyan dan perjalanan diteruskan ke panaraga. Akhirny pada tahun1742 kraton Kartasura jebol dan diangkatlah Raden Garendi menjadi sunan baru dengan gelar Sunan Kuning.
Sementara itu patih dan Kompeni belanda berkerja sama menglawan sunan Kuning sebagai imbalan peluasan wilayah. Dan skhirnya kapten wilhem pemimpin kompeni meminta bantuan ke Batawi. Tak lama kemudian bantuan itu datang, terjadilah pertempuran yang lebih dasyat lagi dari yang sebelumnya, kartasura porak poranda.
Dan karena perlengkapan dan jumlah sedadukompeni lebih lengkap dan banyak, pasukan pemberontak kalah hebat. Sesudah sunan kuning Di singkirkan kanjeng sunan kembali menduduki tahtanya.
Seberapa bulan kemudian kanjeng bosan di Kartasura keadaan yang porak poranda. Setelah disuruh untuk mencari tempat yang baru, dipilihlah kota Sala sebagai calon kraton yang baru.
Pada waktu pangeran Mangkubumi yang menjadi salah satu pendukung Raden Garendi berasil lolos dari Surakarta, dia bersama keluarga dan beberapa prajurit dan bangsawan pergi dari Kartasura. Sampailah mereka di desa Kranggan, di sanalah pangeran mendapat kabar ada seorang brahmana sakti mandraguna yang bernama Kyai Srenggi. Pergilah mereka ke Kyai Srenggi untuk berkenalan dan mohon petunjuk.
Begitulah awalnya pertemuan pangeran langsung menceritakan apa yang terjadi, bagaikan petir di siang bolong mendengar pengakuan Kyai bahwa ia sebernarnya adalah Tumenggung Alap-alap yang menjadi salah satu narapraja Mataram yang membenci kompeni.
Kemudin pangeran Mangkubumi mengangkat Kyai sebagai senopati perangnya dan memintanya berganti nama kyai Ageng Sragen serta mengganti desa Kranggan menjadi desa Sragen.
Begitulah selanjutnya kyai Ageng Sragen dianggapSebagai cikal bakal desa Sragen dan menjadi leluhur para penguasa pemegang kekuasaan di Kabupaten Sragen – Sukowati.
Sumber:
http://perpustakaansragen.blogspot.com/search/label/Cerita%20Rakyat%20Sragen
Langganan:
Postingan (Atom)