Lucu ya,
uang Rp.20.000an kelihatan begitu besar bila di bawa kekotak amal masjid,
tapi begitu kecil bika kita bawa kesupermarket.
Lucu ya,
waktu 45 menit terasa begitu lama untuk berdzikir,
tapi betapa pendeknya waktu itu, bila untuk nonton pertandingan sepakbola.
Lucu ya,
betapa lamanya waktu 2 jam untuk berada di masjid,
tapi betapa cepat 2 jam berlalu, untuk melihat pemutaran film di bioskop.
Lucu ya,
susah untuk merangkai kata atau do'a untuk di panjatkan ketika berdo'a atau sholat,
tapi betapa mudahnya mencari bahan obrolan ketika bertemu dengan teman.
Lucu ya,
betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita,
tapi betapa bosanya bila imam di bulan sholat di bulan ramadhan kelamaan bacanya.
Lucu ya,
baca Al'quran satu juz saja,
tapi novel best seller 100 halaman pun habis dialap.
Lucu ya,
orang-orang berebut paling depan untuk nonton bola atau konser,
tapi berebut cari shaf paling belakang bila jum'atan agar bisa cepet keluar.
Lucu ya,
susahnya orang mengajak partisipasi untuk berdakhwah,
tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip.
Lucu ya,
kita begitu percaya apa yang di katakan oleh koran,
tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al'quran.
Lucu ya,
semua orang pengin masuk surga, tanpa harus beriman,
berfikir, berbicara atau melakukan apa-apa.
Lucu ya,
kita bisa ngirim ribuan jokes lewat E-mail,
tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering berfikir mesti dua kali.
Lucu ya.. ^_^
Tampilkan postingan dengan label Renungkanlah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungkanlah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 April 2013
Senin, 21 November 2011
Tak Ada yang Abadi

Menjelang senja, sinar merah kekuningan seperti meminta perhatian makhluk bumi untuk bersiap menyambut malam. Tak hanya manusia, hewan-hewan bahkan binatang melata pun beriringan menuju rumah mereka, menikmati malam, memandangi rembulan dan bintang-bintang, dan mendengarkan hewan-hewan malam bersahutan mewarnai malam yang panjang, hingga menanti datangnya fajar. Manusia-manusia aktif yang terkadang tak kenal lelah, terlelap dalam buaian selimut, mimpi, harapan serta do’a. Hingga esok, ada yang terbangun, dan ada yang tetap terlelap, menutup mata untuk selamanya. Tugasnya sebagai manusia telah selesai. Tak ada manusia yang memiliki sepenuhnya hari, tak ada makhluk yang memiliki sepenuhnya kehidupan. Dan tak ada jiwa yang memiliki sepenuhnya apapun yang sesungguhnya bukan berasal darinya. Semua perubahan, kejadian, dan perputaran peran itu meyakinkan kita, bahwa tak ada yang abadi.
Bayi mungil, lucu dan menyenangkan saat lahir, beranjak dewasa, kemudian tua dan akhirnya mati. Kemudian, generasi berikutnya hadir, hingga diakhiri lagi dengan kematian. Itulah hidup. Seperti matahari yang tak pernah selamanya bersinar, seperti daun yang mengering saat tanggal dari tangkainya, seperti embun yang meski sedemikian indah, hanya sekian detik saja umurnya. Seperti hujan yang mungkin setiap hari turun tak pernah berhenti, tak pernah setiap yang diciptakan Tuhan di alam ini, berkuasa untuk tetap memiliki kejadiannya seutuhnya. Karena mereka hanya makhluk, yang semuanya terus berubah dan berujung pada akhir. Tak seperti Pencipta semua makhluk itu sendiri, karena Ia tak berawal, maka tak ada akhir pada-Nya. Sedangkan kita, atau makhluk lainnya, memiliki awal, dan sudah pasti tertulis sudah akhirnya. Kita hanya tinggal menunggu waktu.
Minggu, 20 November 2011
Ketika Tuhan Menciptakan Wanita

Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan“.
“Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari“.
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.” “Cintanya tanpa syarat.
Hanya ada satu yang kurang dari wanita, Dia sering lupa betapa berharganya dia ..”
Sabtu, 19 November 2011
Kesedihan Malam Ini

Kesedihan yang kita alami tidak akan mengajukan atau mengundurkan kenyataan yang akan terjadi, dan tidak pula akan menambahkan atau menguranginya. Jangan bersedih, sebab kesedihan itu akan mendorong kita untuk menghentikan putaran roda zaman, mengikat matahari agar tak terbit, memutar jarum jam kembali ke masa lalu, berjalan ke belakang, dan membawa air sungai kembali ke sumbernya semula. Jangan bersedih, sebab rasa sedih itu laksana angin puyuh yang hanya akan mengacaukan arah angin, membuat air bah di mana-mana, mengubah cuaca langit, dan menghancurkan bunga-bunga nan indah yang ada di taman.
Jangan bersedih, sebab orang yang bersedih itu ibarat seorang wanita yang mengurai pintalan tenun setelah kuat pintalannya, ibarat seorang yang meniup wadah yang berlubang, dan ibarat seseorang yang menulis di atas air dengan tangannya. Jangan bersedih, sebab usia kita yang sebenarnya adalah kebahagiaan dan ketenangan hati kita. Oleh sebab itu; jangan habiskan usia kita dalam kesedihan, jangan boroskan malam-malam kita dalam kecemasan, jangan berikan menit-menit kita untuk kegundahan.
Rintihan Seorang Ayah

Coba kita buka kembali catatan dunia tentang perjalanan hidup kita ini !
Dalam salah satu bab-nya diceritakan: adalah, seorang ayah telah memelihara anaknya dengan baik. la memberinya makan, pakaian dan minum, mendidiknya hingga menjadi orang yang pandai, rela tidak tidur demi anaknya, rela untuk tidak makan asal anaknya kenyang, dan bahkan, mau bersusah payah agar anaknya bahagia.
Namun apa hendak dikata, bagi mereka yang tidak sadar akan semua itu, ketika sudah berkumis lebat dan kuat tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu menggonggong kepada orang tuanya. la tak hanya berani menggonggong tapi juga menggigit dan bahkan menjilat orang tuanya dengan air liur najisnya.
Dan semua itu, ia tunjukkan dengan perkataan dan juga tindakan. astaghfirullah.........
Rabu, 29 Juni 2011
Telaga Kehidupan
Jatah umur adalah modal utama yang telah diberikan Allah kepada kita. Berlalunya waktu, berarti berkurangnya modal utama kita. Jika kita menghamburkan waktu dengan sia-sia, sama halnya kita menghamburkan modal utama dengan sia-sia.
Hasan Al Basri pernah berpesan, “Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Ketika hari telah berlalu, maka berlalu pulalah sebagian dari dirimu.”
Bertambahnya umur berarti berkurangnya jatah usia seseorang. Namun betapa banyak orang justru merayakan berkurangnya jatah usia dengan berbagai pesta ulang tahun. Mereka tidak bersedih dengan berkurangnya jatah usia, justru bahagia. Padahal mereka tidak tahu, masihkah panjang usia yang telah diberikan oleh-Nya. Simaklah petuah Ibnu Mas’ud berikut ini, “Tidaklah penyesalanku akan sesuatu, melainkan penyesalankku terhadap hari dimana matahari telah tenggelam, namun amal kebajikanku tak kunjung bertambah.”
Sudah seharusnya kita juga menghayati pesan dari ulama besar DR. Yusuf Al Qaradhawi, dalam bukunya “Al waqtu fi al hayati al muslim” : “Wahai saudaraku, tatkala umurmu bertambah, bertambah pula tanggungjawab yang engkau emban, namun waktumu semakin berkurang, kekuatanmu berangsur lemah. Waktumu diusia tua sangatlah sempit, fisikmu akan terus melemah, kesehatanmu mulai turun, dan keaktifanmu mulai berkurang. Namun, kewajiban dan kesibukanmu pada saat itu terus bertambah, maka segeralah manfaatkan waktumu sekarang, karena itu merupakan sebuah peluang.”
Hasan Al Basri pernah berpesan, “Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Ketika hari telah berlalu, maka berlalu pulalah sebagian dari dirimu.”
Bertambahnya umur berarti berkurangnya jatah usia seseorang. Namun betapa banyak orang justru merayakan berkurangnya jatah usia dengan berbagai pesta ulang tahun. Mereka tidak bersedih dengan berkurangnya jatah usia, justru bahagia. Padahal mereka tidak tahu, masihkah panjang usia yang telah diberikan oleh-Nya. Simaklah petuah Ibnu Mas’ud berikut ini, “Tidaklah penyesalanku akan sesuatu, melainkan penyesalankku terhadap hari dimana matahari telah tenggelam, namun amal kebajikanku tak kunjung bertambah.”
Sudah seharusnya kita juga menghayati pesan dari ulama besar DR. Yusuf Al Qaradhawi, dalam bukunya “Al waqtu fi al hayati al muslim” : “Wahai saudaraku, tatkala umurmu bertambah, bertambah pula tanggungjawab yang engkau emban, namun waktumu semakin berkurang, kekuatanmu berangsur lemah. Waktumu diusia tua sangatlah sempit, fisikmu akan terus melemah, kesehatanmu mulai turun, dan keaktifanmu mulai berkurang. Namun, kewajiban dan kesibukanmu pada saat itu terus bertambah, maka segeralah manfaatkan waktumu sekarang, karena itu merupakan sebuah peluang.”
Selasa, 21 Juni 2011
Menata Iman Dalam Semua Fase Kehidupan

Rasulullah saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya Rabb-mu kagum kepada seorang pemuda yang tidak memiliki sifat shabwah (kejahilan dan kekanak-kanakan)”. Hadist tersebut dishahihkan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam silsilah Al-Hadist Ash-Shahihah (1225).
Masa muda adalah fase terpenting bagi seorang muslim. Ia adalah fase kekuatan di antara dua fase kelemahan; kelemahan masa kanak-kanak dan kelemahan masa tua. Ia adalah usia produktif yang sangat penting bagi masa depan manusia. Rasul saw bersabda, “Tidak beranjak kadua kaki anak Adam dari sisi Tuhannya pada hari kiamat nanti hingga ia ditanya mengenai 4 hal: mengenai umur-nya untuk apa ia habiskan; dan mengenai masa mudanya untuk apa ia habiskan…” (HR. Tirmidzi). Ironisnya, seringkali usia muda ini dikeruhkan oleh sifat shabwah, sehingga seorang muslim tidak mampu mendayagunakan masa mudanya secara optimal.
Pengertian Shabwah
#Kerinduan kepada masa kanak-kanak atau sifat kekanak-kanakan. Seorang pemuda seringkali terlambat untuk menyadari bahwa ia telah dewasa dan harus memikul beban beban tugas yang harus dipertanggungjawabkannya di depan keluarga, masyarakat, dan di depan Allah Ta’ala.
#Kecenderungan kepada hal-hal yang sia-sia atau permainan. Para pemuda seringkali menghabiskan usia mudanya untuk melakukan hal-hal yang sia-sia sehingga lupa untuk mendayagunakan segenap potensinya dan merancang masa depannya.
#Kecenderungan untuk melakukan kebodohan. Ketika melakukan sesuatu, sering kali terdorong oleh gejolak emosi sehingga berbagai dampak buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
#Petualangan yang liar. Ia memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal baru dan menantang untuk membuktikan kejantanan dan keberaniannya.
>Kiat-kiat mengantisipasi sifat shabwah
*Usia remaja jangan menutup diri
*Melibatkan diri pada majelis-majelis dewasa
*Mengunjungi orang shalih dan ahli ibadah
*Memilih teman yang baik
*Berlatih bekerja dan berusaha
*Menanamkan Muraqabatullah
*Bermain yang proporsional dan mendidik
>Buah antisipasi shabwah pada pemuda
*Kearifan dan ketenangan hati
*Kebahagiaan dan keselamatan di hari tua
*Menjadi orang yang dikagumi Allah
*Mendapatkan naungan Allah di hari kiamat
Text from: Majalah Hadila Edisi 32 Februari 2010
Rahasia Perjuangan

“Life is stuggle. He one who enjoys this stuggle is the real winner.
Hidup adalah perjuangan. Siapapun yang menikmati perjuangan tersebut adalah pemenang sejati” (Anupama Kamble)
Ada sebuah kisah yang patut menjadi renungan kita bersama bagaimana kita mensikapi hidup dan perjuangannya. Pada suatu ketika seorang pemuda menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul pada kepompong tersebut. Pemuda itu duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika berjuang dengan memaksa diri melewati lubang kecil itu. Setelah beberapa saat, kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya si kupu-kupu telah berusaha semampunya dan tak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya si pemuda memutuskan untuk membantu sang kupu-kupu.. Dia mengambil sebuah guntingdan memotong sisa kekangan pada kepompong itu. Kupu-kupu tersebut akhirnya keluar dengan mudahnya. Gembira hatipemuda tersebut karena telah melepaskan kesulitan yang diderita oleh kupu-kupu itu.
Namun , kupu-kupu tadi mempunya tubuh gembung dan kecil , sayap-sayapmya mengkerut. Pemuda it uterus mengamatinya karena berharap bahwa pada suatu saat sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuh si kupu-kupu yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak disekitar pemuda dangan tubuh gembung dan sayap-sayap yang mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan si pemuda tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan allah untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Dari kisah tersebut kalau kita renungi kadang-kadang yang namanya perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Allah membiarkan kita hidup tanpa hambatan, perjuangan dan pengorbanan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan. Kita mungkin juga tidak memahami arti cinta dan pengirbanan. Kita mungkin tidak akan pernah dapat “terbang”.
Begitulah Allah membimbing kita. Kadang Allah tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Namun kebanyakan kita tidak mengerti, mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Allah. Tetap berjuang, jangan pernah bosan berusaha, jangan berhenti berkorban, kemudian berserah diri. Hidup adalah perjuangan, disanalah butuh pengorbanan. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Berkorban Itu Tanda Cinta

Ada orang yang berkata saat membahas tentang kesungguhan dalam cinta dengan kalimat yang saking seringnya kita mendengar seolah menjadi ucapan yang klise, yaitu “cinta selalu menuntut”. Dari kalimat itu, muncullah apa yang disebut dengan tuntutan cinta. Dan diantara tuntutan cinta adalah pengorbanan. Maka cinta dan pengorbanan ibarat dua sisi mata uang yang tak mungkin bisa dipisahkan. Kalaupun bisa dipisahkan, maka uang itu tak akan bernilai lagi.
Cinta tanpa pengorbanan adalah cinta palsu dan tak bernilai. Maka wajar kalau kita dalam mencintai sesuatu pasti akan dituntut untuk berkorban. Diantaranya adalah “mencintai apa-apa yang dicintai oleh kekasih (yang kita cintai) kita dan membenci apa-apa yang dibenci kekasih kita”. Apakah yang demikian itu juga berlaku dalam mencintai Allah Swt? Allahu akbar…bahkan lebih dari itu.
Kalau ada yang mengatakan “cinta itu tak harus memiliki”, biasanya atau pasti cinta itu memiliki penghalang. Maka cinta pada Allah Swt bisa mendatangkan cinta yang lebih besar pada kita, dan kalau Allah Swt sudah mencintai kita maka Allah Swt berikan hadiah.Mata kita melihat dengan Allah Swt, telinga mendengar dengan Allah Swt, tangan dan kaki bergerak dengan Allah Swt, lisan pun berucap dengan Allah Swt. Dengan kata lain, Allah Swt tidak sekedar kita miliki tetapi lebih dari itu, Allah bersama seluruh diri kita. Dahsyat bukan? Adakah yang bisa membalas cinta sedahsyat Allah?
Kalau demikian, maka tidak ada alasan bagi kita untuk terus berkorban demi Allah Swt. Allah Swt juga telah membeli tiap diri orang beriman dengan Surga. Harta, raga dan jiwa orang yang beriman benar-benar milik Allah Swt yang dititipkan pada orang yang beriman untuk digunakan dalam membuktikan “cinta”nya pada Allah Swt.
Kalau kita orang beriman, maka jangan pernah berhenti berkorban dengan raga, harta dan jiwa. Karena sejatinya semua itu bukan milik kita.
Kemudian bagaimana bentuk berkorban kita?
1.Korban Harta
a.Menggunakan harta seperti yang Allah inginkan. Saat telah mencapai nihsab dan sudah haul maka dikeluarkan zakatnya seperti tuntutan Allah Swt dan Rasul-Nya.
b.Saat tiba hari raya tunaikan juga zakat fitrah atau qurban binatang ternak.
c.Saat ada yang membutuhkan kita pun tak segan mengeluarkan sedekah ataupun infaq.
d.Kemudian sebagian lagi juda dijadikan wakaf.
2.Korban Raga
a.Menggunakan kesehatan dan waktu hanya untuk beribadah kepada Allah dengan semua persepsi tentang ibadah (baik ibadah khusus maupun umum)
b.Saat sakit dan dalam kesempitan juga tidak pernah melupakan Allah.
c.Menjauhi maksiat apapun alasannya.
3.Korban Jiwa
a.Memiliki prinsip dalam hidup “isy kariiman au muth syahidan”(hidup mulia atau mati syahid). Saat masih hidup dipakai untuk terus beramal shaleh sehingga mendapat kemuliaan di sisi Allah dan manusia, dan ketika takdir kematian tiba matinya bernilai khusnul khotimah.
b.Mampu menundukkan jiwa dan nafsunya hanya untuk Allah Swt saja.
Semoga kita mampu menjaga setiap detik yang Allah Swt berikan pada kita untuk selalu bernilai pengorbanan dalam rangka cinta kita kepada-Nya. Dari sekarang hingga ajal dating dan mata pun tepejam. Allahumma amin, InsyaAllah.
Text from: Majalah Hadila Edisi 41 November 2010
Jumat, 22 April 2011
Mutiara Kasih Ibu

Kata yang paling indah dibibir umat manusia adalah “ibu”, dan panggilan paling indah adalah “ibuku”. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.
Suatu ketika ada seorang anak yang melihat ibunya yang menangis. Ia bertanya “Mengapa ibu menangis?”. Sang ibu menjawab, “Sebab ibu adalah seorang wanita, nak”. “Aku tak mengerti?” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan mengerti”, bisik sang ibu lirih.
Kemudian, anak itu bertanya kepada ayahnya “Ayah, mengapa ibu menangis? Sepertinya ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas.” Sang ayah menjawab “Semua wanita memang menangis tanpa alasan”.
Seiring berjalannya waktu, sang anak menjadi remaja, dan masih bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.
“Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”
Dalam mimpinya Tuhan menjawab, “Saat Ku ciptakan wanita, Aku membuatnya sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau sering pula ia kerap berulang kali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan tetap membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa keluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih saying, untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apapundan dalam situasi apapun. Walau tak jarang anak-anaknya itu melukai persasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan kepadanya kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.
Walau sering kali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.
Dan akhirnya, Kuberikan air mata agar mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan pada wanita, agar dapat digunakan kapanpun diinginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan.”
Maka dekatkanlah diri kita pada sang ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.
Kasih ibu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir.
Kasih ibu itu seperti berputar dan senantiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Mellingkupi seperti kabut pagi, menghangatkan seperti mentai siang dan menyelimutinya seperti bintang malam.
Semoga Yang Maha Kuasa mengampuni dosa-dosanya. Amin..
Eight Lies of Mother

1. Cerita ini dimulai ketika aku masih kecil, saya terlahir sebagai anak lelaki dari sebuah keluarga miskin. Yang terkadang untuk makan pun kami sering kekurangan. Kapan pun ketika waktu makan, ibu selalu memberikan bagian nasinya untuk saya. Ketika beliau mulai memindahkan isi mangkuknya ke mangkuk saya, dia selalu berkata “Makanlah nasi ini anakku. Aku tidak lapar”. Ini adalah kebohongan ibu yang pertama.
2. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, dengan tekun ibu menggunakan waktu luangnya untuk memancing di sungai dekat rumah kami. Dia berharap jika dia mendapat ikan, dia dapat memberi aku sedikit makanan yang bergizi untuk pertumbuhanku. Setelah memancing, dia akan memasak ikan tersebut menjadi sup ikan segar yang meningkatkan selera makanku. Ketika aku memakan ikan tersebut, ibu akan duduk disebelahku dan memakan daging sisa ikan tersebut, yang masih menempel pada tulang ikan yang telah aku makan. Hatiku tersentuh sewaktu melihat hal tersebut, aku menggunakan supitku dan memberikan potongan ikan yang lain kepadanya. Tetapi dia langsung menolaknya dengan segera dan mengatakan “Makanlah ikan itu nak, aku tidak seberapa menyukai ikan”. Itu adalah kebohongan ibu yang kedua.
3. Kemudian, ketika aku berada di bangku sekolah menengah, untuk membiayai pendidikanku, ibu pergi ke sebuah badan ekonomi (KUD) dan membawa kerajinan dari korek api bekas. Kerajinan tersebut menghasilkan sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan kami. Ketika musim semi datang, aku terbangun dari tidurku dan melihat ibuku yang masih terjaga, dan ditemani cahaya lilin kecil dan dengan ketekunannya dia melanjutkan pekerjaan menyulamnya. Aku berkata “Ibu, tidurlah, sekarang sudah malam, besok pagi ibu masih harus pergi bekerja”. Ibu tersenyum dan berkata “Pergilah tidur, sayang. Aku tidak lelah.” Itu adalah kebohongan ibu yang ketiga.
4. Pada saat Ujian Akhir, ibu meminta ijin dari tempat ia bekerja hanya untuk menemaniku. Pada saat siang hari dan matahari terasa sangat menyengat, dengan tabah dan sabar ibu menunggu ku dibawah terik sinar matahari untuk beberapa jam lamanya. Dan setelah bel berbunyi, yang menandakan waktu ujian telah berakhir, ibu dengan segera menyambutku. Beliau memberikan ku segelas teh yang telah beliau siapkan sebelumnya di botol dingin. Kentalnya teh terasa tidak sekental kasih sayang dari ibu yang terasa sangat kental. Melihat ibu menutup botol tersebut dengan rasa haus, langsung saya memberikan gelasku dan memintanya untuk minum juga. Ibu berkata “Minumlah nak, ibu tidak haus!”. Itu kebohongan ibu yang keempat.
5. Setelah kematian ayahku yang disebabkan oleh penyakit, ibuku tersayang harus menjalankan perannya sebagai orang tua tunggal. Dengan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, dia harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri. Hidup keluargaku semakin kompleks. Tak ada hari tanpa kesusahan. Melihat keadaan keluargaku pada saat itu yang semakin memburuk, ada seorang paman yang tinggal dekat rumahku datang untuk menolong kami, baik masalah yang besar dan masalah yang kecil. Tetangga kami yang lain yang tinggal dekat dengan kami melihat kehidupan keluarga kami sangat tidak beruntung. Mereka sering menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang sangat keras kepala, tidak memperdulikan nasehat mereka. Dia berkata “Saya tidak butuh cinta”. Itu adalah kebohongan ibu yang kelima.
6. Setelah saya menyelesaikan pendidikan dan mendapat sebuah pekerjaan, itu adalah waktu bagi ibuku untuk beristirahat. Tetapi dia tetap tidak mau, dia sangat bersungguh-sungguh pergi ke pasar setiap pagi hanya untuk menjual beberapa sayuran untuk memenuhi kebutuhannya. Saya yang bekerja di kota lain, sering mengirimkan beliau sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhannya, tetapi beliau tetap keras kepala untuk tidak menerima uang tersebut. Beliau sering mengirim kembali uang tersebut kepadaku. Beliau berkata “Saya punya cukup uang”. Itu adalah kebohongan ibu yang keenam.
7. Setelah lulus dari program sarjana, kemudian saya melanjutkan pendidikan saya ketingkat Master. Saya mengambil pendidikan tersebut, dibiayai oleh sebuah perusahaan melalui sebuah program beasiswa, dari sebuah Universitas terkenal di Amerika. Akhirnya saya bekerja di perusahaan tersebut. Dengan gaji yang lumayan tinggi, saya berniat untuk mengambil ibu dan mengajaknya untuk tinggal di Amerika. Tetapi ibuku tersayang tidak mau merepotkan anak lelakinya. Beliau berkata kepadaku “Saya tidak terbiasa”. Itu adalah kebohongan ibu yang ketujuh.
8. Sewaktu memasuki masa tuanya, ibu terkena kanker tenggorokan dan harus dirawat di rumah sakit. Saya yang terpisah sangat jauh dan terpisah oleh lautan, segera pulang kerumah untuk mengunjungi ibuku tersayang. Beliau terbaring lemah ditempat tidurnya selepas selesai menjalankan operasi. Ibu yang terlihat sangat tua, menatapku dengan tatapan rindu yang dalam. Beliau mencoba memberikan senyum di wajahnya meskipun terlihat sangat menyanyat dikarenakan penyakit yang dideritanya. Itu sangat terlihat jelas bagaimana penyakit tersebut menghancurkan tubuh ibuku, dimana beliau terlihat lemas dan kurus. Saya mulai mencucurkan air mata di pipi dan menangis. Hatiku sangat terluka, teramat sangat terluka, melihat ibuku dengan keadaan yang demikian. Tetapi ibu, dengan segala kekuatannya, berkata “Jangan menangis, anakku sayang, ibu tidak sakit. Itu adalah kebohongan ibu yang kedelapan.
Setelah mengatakan kedelapan kebohongannya, ibuku tersayang menutup matanya untuk selamanya.
Abdullah Hadrami
Sabtu, 19 Maret 2011
Tahukah Kita?
+Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.
+Kita dilahirkan dengan dua buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari 2 buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.
+Kita lahir dengan otak di didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang anda pikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga dari emas dan perhiasan.
+Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
+Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
+Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.
+Kita dilahirkan dengan dua buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari 2 buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.
+Kita lahir dengan otak di didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang anda pikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga dari emas dan perhiasan.
+Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
+Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
+Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.
Langganan:
Postingan (Atom)